Ini Alasan Merdeka Battery (MBMA) Pede Jadi Raja Baterai

Ini Alasan Merdeka Battery (MBMA) Pede Jadi Raja Baterai

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten pengolahan nikel milik Boy Thohir, Merdeka Battery Materials (MBMA), menyebut sejumlah faktor penting yang dapat menguntungkan perusahaan dalam persaingan di industri pengolahan nikel dan baterai kendaraan listrik.

Dalam helatan “Nickel Conference 2023” CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (25/07/2023), Direktur Merdeka Battery Materials (MBMA) Andrew Starkey mengungkapkan posisi perusahaan yang terintegrasi di kawasan kaya mineral merupakan nilai tambah bagi perusahaan.

“Kami yakin ini adalah sumber daya Limonit terbesar di dunia,” ungkap Andrew merujuk pada tambang milik perusahaan yakni PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang memiliki sumber daya 13,8 juta ton nikel (kadar 1,22% Ni) dan 1 juta ton kobalt (kadar 0,08% Co).

Dengan basis sumber daya raksasa, Andrew percaya MBMA mampu mencapai volume produksi signifikan dan akan menjadi pendorong utama dalam menggenjot kinerja keuangan perusahaan.

Bos MBMA juga menambahkan cadangan besar di ‘depan pintu rumah’ juga ikut memberikan kendali lebih bagi perusahaan, baik itu lewat rasa aman atas pasokan hingga di mana bijih dapat diproses oleh perusahaan.

Lebih lanjut perusahaan meyakini bahwa memiliki pabrik di dekat salah satu kawasan industri paling awal dan besar ikut memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan.

“Terletak di dekat Kawasan Industri Morowali (IMIP) tentunya menempatkan tambang SCM di lokasi yang cocok untuk memajukan proyek pengolahan hilir,” ujar Andrew.

Andrew juga menyebut pihaknya melihat IMIP merupakan salah satu tanda nyata awal keberhasilan kebijakan pemerintah Indonesia dalam mendorong hilirisasi, terbukti dari besarnya investasi, penyerapan tenaga kerja serta transfer teknologi yang terjadi.

Pabrik Nikel

MBMA saat ini tengah menyelesaikan proyek pendirian pabrik nikel raksasa yang diharapkan akan selesai dalam dua tahun ke depan. Ambisi ini juga telah diungkapkan perusahaan kala melakukan penggalangan dana di pasar modal.

Sebelumnya, MBMA sukses melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) dan resmi melantai di bursa pada 18 April 2023 lalu. Dalam aksi korporasi tersebut perusahaan melepas 11 miliar saham baru dan berhasil menggalang Rp 8,74 triliun.

Salah satu penggunaan utama dana IPO tersebut adalah untuk penyelesaian pabrik nikel raksasa HPAL berkapasitas 60.000 ton yang membutuhkan biaya sebesar US$ 1,28 miliar atau setara Rp 19,2 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$).

Perusahaan memperkirakan HPAL tahap satu akan selesai 2025 dan akan berkontribusi sekitar 25% dari EBITDA perusahaan.

Penambahan dan ekspansi pabrik nikel ini tentu diharapkan akan menjadi penopang kinerja keuangan MBMA di masa mendatang.

Hingga akhir kuartal pertama 2023, MBMA mencatatkan pendapatan Rp 4,41 triliun dengan laba bersih Rp 687 miliar.

Pada penutupan perdagangan Rabu (26/7), saham MBMA tercatat terkoreksi 1,34% ke Rp 735/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 79,38 triliun dan merupakan perusahaan nikel paling berharga di Bursa Efek Indonesia (BEI).

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Tok! Harga IPO Merdeka Battery Rp 795 per Saham

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *